Covid-19 Dalam Dimensi Gender

Anindrya N

Pandemi COVID-19 telah membawa begitu banyak akibat setiap aspek kehidupan, termasuk terhadap isu gender. Di seluruh dunia, secara rata-rata, tingkat morbiditas dan mortalitas  COVID-19 pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita. Namun hal ini tidak berlaku umum. Di Italia misalnya, data dari VOX CEPR Policy Portal menunjukkan pria lebih rentan terhadap COVID-19 dibandingkan dengan wanita. Namun jika data COVID-19 dibagi berdasarkan usia, maka wanita usia 20-49 lebih rentan terhadap penyakit tersebut. Baru pada usia di 50 laki-laki lebih rentan dibandingkan wanita[1]. Sebanyak 54,04% pasien positif adalah laki-laki. Jika dibagi berdasarkan usia, maka distribusi pasien COVID-19 positif paling besar terdapat pada usia 40 ke atas, yaitu sebesar 42.7% untuk wanita, dan 47.1% untuk pria2. Namun, berdasarkan usia, wanita dan anak perempuan usia 6-39 tahun lebih rentan terkena COVID-19. Baru pada usia 40 ke atas, pria lebih banyak menderita covid-19 dibandingkan wanita.

Dalam kasus tingkat keparahan, data dari Global Health 5050 memperlihatkan kecenderungan bahwa pria memiliki ko-morbiditas dengan penyakit lain seperti jantung iskemik, stroke, paru kronis obstruktif, dan hipertensi. Hal ini kemungkinan besar berkaitan  dengan kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol di kalangan pria yang lebih tinggi dibanding wanita[2]. Di Jawa Barat, 55,7% pasien positif aktif adalah pria dan data kematian pada pria lebih signifikan dibanding wanita, yaitu sebesar 80,5%. Di Itali, Spanyol, Amerika Serikat, dan Jerman, tenaga kesehatan yang terjangkit COVID-19 jauh lebih besar dibandingkan dengan pria[3]. Hal ini mungkin karena kebanyakan perawat adalah wanita.

Selain itu, dari beberapa fakta dalam aspek kehidupan yang lain, dampak pandemi COVID-19 terhadap wanita lebih besar. Hal ini terutama terjadi di negara-negara berkembang dengan budaya patriarki, dimana wanita memiliki posisi lemah dalam pengambilan keputusan dibandingkan dengan pria. Pertama, naiknya tingkat kekerasan domestik terhadap wanita. Menurut laporan UNFPA, wanita dan anak-anak perempuan rentan terhadap kekerasan akibat adanya ketegangan yang meningkat di rumah karena tekanan ekonomi. Hal yang sama terjadi pada saat wabah Ebola di Afrika Barat pada tahun 2013-2016. Penanganan medis terhadap penyintas yang menderita cedera akibat kekerasan domestik mungkin terganggu karena fasilitas kesehatan saat ini sedang terkonsentrasi pada penanganan COVID-19[4].

Kedua, pembagian peran antara pria dan wanita di rumah selama masa work from home (WFH). Wanita dianggap bertanggung jawab dalam mengurus anak di rumah. Ketika anak-anak diliburkan dari sekolahnya dan pendidikan dilanjutkan di rumah, maka wanita akan mengambil peran sebagai pengajar anak-anak. Peran ini masih di luar pekerjaan domestik sehari-hari yang semakin bertambah karena semua penghuni ada di rumah, seperti memasak, mengurus hal yang berhubungan dengan air bersih dan sanitasi, membersihkan rumah, dan lain-lain. Bagi wanita pekerja, pekerjaan kantor masih harus tetap dilakukan. Hal ini menambah beban berlipat bagi wanita yang berpotensi menyebabkan  tekanan fisik dan mental pada wanita. Meskipun begitu, secara psikososial, pria cenderung enggan untuk mencari layanan kesehatan karena ingin terlihat sebagai sosok yang kuat, sehingga terjadi keterlambatan dalam deteksi dan akses terhadap perawatan. Dalam konteks tersebut, pria juga merasakan tekanan sebagai kepala keluarga dalam menghadapi kesulitan ekonomi yang timbul akibat pandemi[5]. Ketiga, pandemi COVID-19 telah mengakibatkan hilangnya mata pencaharian bagi wanita yang bekerja di sektor domestik, misalnya sebagai asisten rumah tangga dan perawat anak. Akibatnya, kesenjangan dalam pekerjaan lebih besar .

Di sisi lain, perubahan pola hidup akibat pandemik COVID-19 akan membentuk the new normal yang berpengaruh positif bagi wanita dari kalangan menengah ke atas. Sebagai contoh,  jam kerja yang fleksibel dengan memanfaatkan teknologi informasi dan  layanan-layanan digital yang memudahkan akses terhadap berbagai keperluan sehari-hari akan meningkatkan kualitas hidup para ibu bekerja. Namun, solusi ekonomi dan psikososial untuk wanita dari kalangan ekonomi bawah masih harus dipikirkan bersama. Mengutip Melinda Gates dari bukunya yang berjudul the Moment of Lift, ketika engkau menolong wanita, maka engkau menolong seluruh peradaban.


[1] https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan

[2] Di Jawa Barat, 55,7% pasien positif aktif adalah pria dan data kematian pada pria lebih signifikan dibanding wanita, yaitu sebesar 80,5%. https://globalhealth5050.org/covid19/#1586263312717-c89130f0-8676

[3] https://globalhealth5050.org/covid19/#1587664245579-30fa0c77-7d6a

[4] https://www.unfpa.org/sites/default/files/resource-pdf/COVID-19_A_Gender_Lens_Guidance_Note.pdf

[5] https://www.unfpa.org/sites/default/files/resource-pdf/COVID-19_A_Gender_Lens_Guidance_Note.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: