Kolaboraksi: Pelajaran dari London untuk Indonesia pada Masa Pandemi COVID-19

Averky A. B. Sidebang, Baginda Yusuf Aditya Negara,  Salma Azaria Al Amin, Haekal Muhammad Al Washy

Program Studi Rekayasa Infrastuktur Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

“Ya Harvard suruh ke sini…Tidak ada barang yang ditutupi,” penggalan ucapan Terawan, Menteri Kesehatan Indonesia, saat diminta pendapat soal pernyataan peneliti dari Harvard yang memprediksi virus COVID-19 telah masuk ke Indonesia awal Februari silam. Dikatakannya terlalu mengada-ngada, dilanjutkannya dengan anjuran berdoa hingga belasan ribu positif COVID-19, hingga dibatasinya pergerakan manusia. Begitu pula yang terjadi saat wabah kolera melanda London hampir dua ratus tahun silam. Penawar serta “akar” yang samar ditemukan, mahal dan terbatasnya alat kesehatan, berkurang drastisnya penghasilan, tak lupa masyarakat panik akibat hoaks bertebaran menjadi beberapa masalah pengiring yang wabah timbulkan. Tak hanya di bidang medis, dampak wabah hampir mengenai seluruh elemen kehidupan. Hal ini tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian. Dengan kejadian di London berdasarkan buku “The Ghost Map,” sebagai pembanding, penanganan wabah yang baik di Indonesia akan terjadi ketika insinyur, ilmuwan, tokoh keagamaan, serta pemerintah bergerak dan berkolaborasi sesuai ranahnya.

Sebagai pembuka jalan, ilmuwan dan insinyur berperan dalam penanganan keterbatasan pengetahuan akan wabah yang berkaitan serta peningkatan kapasitas fasilitas medis tertentu. Kembali ke London pertengahan abad 19 ketika publikasi Filippo Pacini tentang keberhasilannya mengamati bakteri Vibrio cholera dan temuan Thomas Latta dalam penanganan kolera secara medis disabotase populernya paham miasmatisme. Paham yang mendarah daging ini menyatakan bahwa penyakit berasal dari bau busuk sehingga pencapaian-pencapaian tersebut terabaikan. Namun, meski tak ada jaminan akan menghasilkan, hal tersebut tak menyurutkan semangat John Snow, seorang dokter yang kemudian dikenal sebagai bapak epidemiologi, untuk membuktikan bahwa air dari Broad Street Pump-lah yang menjadi penyebab. Akhirnya, Snow dengan bantuan temuan model statistik William Farr serta hasil pemetaan yang ia lakukan berhasil mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap pompa tersebut. Keberhasilannya ini selain menjadi titik awal akan berakhirnya wabah kala itu juga telah meluruskan paham sesat mendarah daging yang sebelumnya menghambat penanganan.

Berbeda kondisi namun dalam satu nafas, kolaborasi, bertindak sebagai insinyur dan dosen, Syarif Hidayat, berhasil membuat ventilator yang biaya produksinya jauh dari ventilator pada umumnya sebagai upaya menyelesaikan permasalahan kemampuan fasilitas kesehatan di Indonesia dalam menghadapi COVID-19. Sama halnya dengan John Snow yang Menggunakan temuan William Farr, keberhasilan Syarif Hidayat bukanlah “one man show” melainkan buah hasil kerjasama multidisiplin beberapa lembaga. Pembuka jalan di sini berarti juga menerangi jalan gelap penanganan dengan hasil- hasil temuan.

Selanjutnya, pada saat terjadi wabah, tokoh keagamaan bertindak sebagai agen pengontrol sosial skala komunal yang masyarakat menaruh kepercayaan lebih padanya. Menurut Basuki (2008), “tokoh agama masih benar-benar menjadi panutan umatnya. Apapun yang disarankan oleh mereka masih dituruti oleh kaumnya. Sering kita saksikan upaya pemerintah untuk meredakan konflik dengan memberdayakan tokoh agama,” (hal. 13). Saat terjadi wabah kolera tahun 1854, awalnya sebagian masyarakat percaya dengan sebuah teori yang dikenal sebagai teori miasma yang menyatakan bahwa penyakit datang melalui udara dalam bentuk uap atau kabut beracun yang berisikan partikel dari materi membusuk. Teori ini begitu melekat pada masyarakat hingga membutakan fakta-fakta lain yang ada.

Hal ini bukan tanpa alasan, di London misalnya, kedekatan teori ini dengan agama serta ditambah dengan tokoh keagamaan yang juga menjadi penganut, yaitu Henry Whitehead, seorang pendeta, juga asisten kurator di St. Luke Soho membuat masyarakat, lebih memercayainya. Whitehead menurut buku “The Ghost Map,” karya Johnson (2008) menyatakan bahwa wabah tersebut merupakan kehendak Tuhan lalu mengaitkannya dengan paham miasma menjadi atmosfer di seluruh dunia bisa menghasilkan wabah yang hebat. Namun pada perkembangannya Whitehead kemudian melakukan penelitian dan menemukan apa yang dipahaminya tidak benar. Sebagai seseorang yang memiliki komitmen terhadap lingkungannya akhirnya Whitehead membantah apa yang sebelumnya dianut dengan temuan bahwa wabah kolera saat itu bersumber dari air dan menjadi salah satu yang terus menggaungkan hal ini di sisa hidupnya. Sedikit berbeda dengan figur keagamaan di London, peran tokoh keagamaan di Indonesia saat ini lebih fokus pada kontrol sosial di sekitarnya. Sebagai contoh dengan mendukung kebijakan pemerintah untuk membatasi kegiatan peribadatan, serta memastikan bahwa informasi yang kurang tepat bisa disaring seperti kabar dari salah satu petinggi militer yang menganjurkan untuk memakmurkan masjid saat terjadi wabah COVID-19 karena bila meninggal akan dinilai syahid terbantahkan oleh hadits tentang berdiam diri di rumah pahalanya sama dengan mati syahid yang kemudian disyiarkan pemuka-pemuka agama. Saat terjadi masa-masa sulit, bisa dipastikan tokoh agama dengan pemahamannya dapat menjadi pengontrol sosial yang efektif mengingat juga menurut Pargament(2001) Religious coping berkaitan dengan pendekatan diri terhadap agama sebagai upaya penguatan saat masa sulit. Termasuk di dalamnya membaca kitab suci, mencari saran dari petinggi agama hingga usaha pengurangan stress dan pikiran tidak menyenangkan lainnya melalui media keagamaan.

Terakhir adalah pemerintah, berperan sebagai pengambil keputusan masif serta penyedia ruang penyampaian aspirasi dan sarana kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Rapat darurat jajaran gubernur St. James’s Parish kala itu diadakan malam hari. Mulanya bertujuan untuk membahas tentang wabah yang sedang terjadi dan respon lingkungan terhadapnya. Namun, menyambung dengan poin di paragraf pertama, di sinilah John Snow menyampaikan hasil temuannya hingga berhasil mendesak pemerintah agar menyetop penggunaan air Broad Street Pump meski temuannya diterima dengan penuh keraguan. Keesokan harinya penyetopan penggunaan pompa air tersebut pun dilakukan. Langkah ini menjadi salah satu keputusan yang merubah hidup orang banyak hingga saat ini. Tak jauh berbeda dengan pemerintah di London saat wabah kolera 1854, pemerintah Indonesia pun bergerak cenderung lambat, mengawali langkahnya dengan membantah prediksi peneliti dari Harvard. Meski demikian, seiring berjalannya waktu keputusan-keputusan yang diambil begitu mempertimbangkan segala aspek kehidupan sampai-sampai PSBB sudah mulai dilonggarkan karena alasan ekonomi, mudik diperbolehkan, tak lupa UU Minerba juga disahkan (wah salah kamar). Tak ayal bila masyarakat semakin hari semakin tenang. Bak pintu air, hanya pemerintahlah yang dapat menahan juga melepaskan “air-air” tersebut untuk mengaliri apa yang dirasa terbaik untuk semua.

Kolaborasi menjadi kata kunci yang menjadi benang merah rangkaian tulisan ini. Sehebat apapun temuan para ilmuwan, semutakhir apapun insinyur menciptakan, sekencang apapun kitab suci dibacakan tak berarti bila bergerak sendiri. Di sisi lain, pemerintah dalam kapasitasnya, memetik pelajaran dari momen pencabutan pompa di London, harus menjadi elemen yang paling sadar bahwa bersama kita bisa bila saling mendengarkan dan ingat bahwa selalu ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap keputusan.

Referensi

Johnson, S. (2008). The ghost map: the story of Londons most terrifying epidemic–and how it changed science, cities, and the modern world. London: Penguin.

Kannadan, A. (2018). History of the Miasma Theory of Disease. Retrieved May 14, 2020, from https://dc.cod.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1657&context=essai

Dean ME (2015). Selective suppression by the medical establishment of unwelcome research findings: The cholera treatment evaluation by the General Board of Health, London 1854. JLL Bulletin: Commentaries on the history of treatment evaluation. Retrieved May 14, 2020, from https://www.jameslindlibrary.org/articles/selective-suppression-by-the-medical- establishment-of-unwelcome-research-findings-the-cholera-treatment-evaluation-by-the- general-board-of-health-london-1854/

Halliday, Stephen. (2001). Death and miasma in Victorian London: an obstinate belief. Retrieved May 14, 2020 from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1121911/

Basuki/Isbandi, (2008). Konstruksi Sosial Peran Pemuka Agama dalam Menciptakan Kohesivitas Komunikasi Sosial di Kota Mataram. Retrieved May 15, 2020 from http://www.jurnal.upnyk.ac.id/index.php/komunikasi/article/viewFile/34/3

Pargament, K. I., Tarakeshwar, N., Ellison, C. G., & Wulff, K. M. (2001). Religious Coping Among the Religious: The Relationships Between Religious Coping and Well‐Being in a National Sample of Presbyterian Clergy, Elders, and Members. Journal for the Scientific Study of Religion, 40(3), 497–513. doi: 10.1111/0021-8294.00073

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: