Peran Epidemiologi di Bidang Kesehatan: Mendobrak Paradigma yang Salah di Masyarakat

David Chua, Lasma Rouly Laurencia, Salsa Nabila Stefany, Yusuf Adi Nugraha Irsan

Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Penyakit kolera yang merebak di London pada tahun 1800-an merupakan dalang di balik kematian ratusan bahkan ribuan orang pada masa itu. Tingginya angka kasus yang terjadi di London salah satunya berkaitan erat dengan paradigma miasmatisme yang dianut oleh sebagian besar warganya. Selain miasmatisme, warga London juga sempat mengaitkan penyakit kolera dengan orang miskin atau masyarakat kelas bawah oleh alasan keterbatasan moral. Ironisnya kasus ini jelas melibatkan manusia dari berbagai kalangan, mulai dari yang strata sosialnya tinggi sampai rendah tanpa pandang bulu.

Paradigma miasmatisme yang melekat begitu kuat di pikiran warga London membuat mereka abai terhadap bukti-bukti ilmiah yang merupakan kunci identifikasi kolera. Bahkan kala itu mereka mengaitkan teori ini dengan menyatakan bahwa kolera bisa berada di dalam air karena air tersebut telah terinfeksi oleh atmosfer yang beracun. Dampak negatif paradigma ini dapat dilihat dari terus berkembangnya wabah kolera yang menginfeksi semakin banyak manusia di London. Dari hal ini terlihat bahwa paradigma yang dominan dapat memberikan pengaruh yang besar dalam menegakkan kebenaran terhadap sesuatu yang merupakan sebuah kecacatan berfikir. Didasari oleh argumen tersebut, penulis berpendapat bahwa dobrakan terhadap paradigma yang salah di masyarakat London abad ke-18 tentang penularan penyakit kolera, yang mendasari munculnya epidemiologi, merupakan salah satu tonggak penting bagi perkembangan medis di masa kini. Pembahasan dalam esai ini akan didahului dengan pengertian dari paradigma, faktor negatif yang mempengaruhi proses terbentuknya paradigma serta dampaknya pada masyarakat, dan selanjutnya bagaimana paradigma itu dapat diubah dari sisi pandang epidemiologi. Kemudian diikuti dengan pembahasan mengenai epidemiologi dan perannya dalam memberikan kemajuan di bidang kesehatan.

Paradigma

Paradigma berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata yaitu para dan deigma. Kata para artinya di sebelah atau di samping, dan kata deigma artinya teladan, ideal, model atau arketipe. Istilah paradigma diartikan sebagai sebuah pandangan atau cara pandang terhadap sesuatu yang digunakan untuk menilai dunia dan alamnya berdasarkan asumsi yang dipengaruhi oleh keadaan sekitar (Sanjaya, 2017). Karena paradigma merupakan cara pandang, maka hal tersebut akan berpengaruh pula ke cara berpikir, bersikap, dan bertingkah laku.

Dalam bukunya dengan judul The Structure of Scientific Revolution, Thomas Kuhn mendefinisikan paradigma sebagai landasan berpikir atau konsep dasar yang digunakan atau dianut sebagai model atau pola, dengan mengandalkan beberapa studi keilmuan. Sementara menurut pendapat lain, paradigma merupakan sekumpulan nilai yang dapat membentuk suatu pola pikir pada seseorang yang dapat menuntun orang tersebut untuk dapat menangani sebuah realita (Friedrichs, 1970). Maka secara umum, paradigma dapat disimpulkan sebagai cara atau pola berpikir manusia dalam menghasilkan penyelesaian masalah.

Terbentuknya Paradigma yang Salah

Pada dasarnya kehidupan di bumi ini berjalan dengan satu hukum dasar yang berlaku, yaitu organisme yang tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan pada akhirnya akan gugur melalui seleksi alam (Darwin, 1871). Salah satu tuntutan dasar setiap makhluk hidup ialah untuk menghindar dari predator atau hal-hal lain yang dapat mengancam keselamatan, atau yang disebut mekanisme bertahan hidup.

Pada manusia, perilaku ini didukung oleh sistem neurobiologis. Respon utama manusia dalam keadaan mengancam yang biasa disebut fight, flight, or freeze (FFF) dipengaruhi oleh sistem limbik pada otak, kerjanya kontra dengan struktur otak depan yang secara umum berfungsi untuk logical reasoning. Berdasarkan penelitian, kemampuan berfikir logis pada manusia ini secara besar dipengaruhi oleh emosi (Nadine Jung et al., 2014). Dalam konteks mekanisme bertahan hidup, bentuk emosi yang paling dominan adalah rasa takut atau lebih tepatnya, fear of extinction.

Sebuah studi di tahun 2003 menemukan bahwa bau yang kuat merangsang aktivitas amigdala dan ventral insula pada otak manusia (sebagaimana dikutip dalam Johnson, 2006). Amigdala berfungsi memicu respon insting manusia terhadap ancaman bahaya, dan kerjanya sejalan dengan hipokampus yang berperan dalam memori untuk merekam kondisi maupun situasi saat terjadi bahaya. Dengan fungsinya tersebut, hipokampus dapat memberikan asosiasi dalam merespon rangsangan yang diterima oleh amigdala. Sebagai contoh, saat manusia mencium suatu bau maka mereka cenderung mengasosiasikannya dengan miasma akibat rasa takut karena penyakit tersebut mematikan dan pernah memakan banyak sekali korban (timbul rasa fear of extinction). Rasa takut tersebut kemudian membatasi kemampuan berpikir logis, sehingga hal ini mendasari persistensi paradigma yang salah pada masyarakat London kala itu.

Kecacatan Berfikir dalam Paradigma dan Bagaimana Mengubahnya

Kecacatan berpikir atau logical fallacies adalah sebuah kesalahan dalam berfikir secara logis. Dalam kasus ini, warga London penganut miasmatisme menghubungkan dua hal: udara di Jalan Broad (pusat terjadinya kematian akibat kolera) sangat bau, dan banyak orang yang meninggal. Karena itu, maka penyebab kematian pasti adalah udara bau. Kesalahan ini disebut dengan post hoc ergo propter hoc; hanya karena suatu peristiwa terjadi mengikuti peristiwa yang lain bukan berarti peristiwa yang pertama menyebabkan yang kedua (Grouse, 2016).

Mengubah paradigma yang telah mengakar kuat di suatu masyarakat bukanlah hal mudah. Dewasa ini, masih banyak paradigma-paradigma salah terkait penularan dan/atau penyebaran penyakit. Tidak jarang hal ini malah menimbulkan kepanikan pada masyarakat awam, sehingga memunculkan respons yang tidak tepat pada keadaan darurat. Di sini para ilmuwan/akademisi berperan penting untuk meluruskan hal tersebut dengan pikiran yang kritis. Di London, misalnya, pada musim dingin tahun 1848-1849, John Snow telah mengemukakan semua penjelasan medis utama bahwa kolera ditularkan melalui air. Sayangnya sangat sulit untuk membuat khalayak umum menerima teori tersebut. Pada akhirnya, diterimanya teori tersebut oleh masyarakat bergantung pada keterampilan John Snow sebagai sosiolog. Lebih dari itu, dibutuhkan data-data ilmiah pendukung yang juga disertai oleh kemampuan persuasi dan tekad yang bulat agar tidak tenggelam di bawah tekanan sosial. Hal ini dapat kita peroleh dengan mempelajari ilmu epidemi, yang menekankan bahwa pengamatan terhadap penyakit pada skala populasi juga sama pentingnya dengan penelitian skala molekuler tentang patogenesis penyakit. Dengan ini, kita dapat melihat data aktual sebaran penyakit dari kaca mata yang lebih luas.

Epidemiologi dan Perkembangan Kesehatan Dunia

Hal yang Snow lakukan memberikan sebuah terobosan bagi ilmu kesehatan di dunia, yaitu epidemiologi. Ia menunjukkan kunci dasar bahwa informasi terpenting mengenai penyakit menular ialah moda penularannya, setelah itu maka bisa diketahui cara pencegahan dan penanganannya. Para ilmuwan berasumsi bahwa pengendalian penyakit dilakukan secara bertahap, dimulai dari identifikasi agen. Namun, seringkali mengetahui agen spesifik tidak terlalu berdampak dibandingkan dengan menemukan moda penularan dan melakukan intervensi langsung terhadap transmisi patogen tersebut (Paneth, 2004).

Tidak hanya itu, menurut Kerr L. White, cara pandang terkait penyakit juga harus dilengkapi dengan sisi pandang terhadap kondisi psikobiologis manusianya (sebagaimana dikutip dalam Dever, 1984). Karena tidak seperti hewan, manusia merupakan makhluk hidup yang sangat kompleks (bahkan belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh ilmu yang ada), dan dalam perilakunya memiliki respons unik terhadap setiap kondisi. Sehingga dalam epidemiologi, kita juga dituntut untuk memeriksa cara hidup, kondisi lingkungan, dan elemen psikobiologis lainnya.

Metode epidemiologis digunakan oleh tenaga medis maupun orang-orang yang terlibat dalam profesi terkait untuk pengawasan penyakit, penyelidikan wabah, dan mengidentifikasi faktor risiko penyakit baik pada populasi manusia maupun hewan. Pengetahuan akan hal ini akan sangat bermanfaat dalam upaya pengendalian penyakit, serta Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis and Critical Control Points, HACCP). Selain itu, studi epidemiologis terhadap faktor risiko juga dapat digunakan untuk merepresentasikan titik kontrol kritis dalam sistem produksi pangan.

Pernyataan di atas merupakan bukti bahwa dalam penerapannya, epidemiologi memberikan dampak yang sangat besar bagi kemajuan manusia, terutama dalam bidang kesehatan. Hal ini tentunya didasari oleh persistensi John Snow dalam mengubah paradigma miasmatisme, dengan mengemukakan teori penyakit yang didasarkan pada tinjauan berbagai aspek terkait pola penyebarannya.

Dari esai ini, nilai yang ingin ditekankan oleh penulis ialah hendaknya dalam mempelajari ilmu kesehatan didasarkan pada fakta dan bukti riset yang paling akurat; tidak dikaburkan oleh paradigma, sebab pengambilan keputusan sebagai hasil dari studi tersebut memiliki pengaruh yang sangat krusial. Karena tercapainya kesehatan masyarakat tidak hanya bertujuan mencegah penyakit, tetapi juga memperpanjang hidup dan lebih lagi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia.

Referensi

Bartlett, P., & Judge, L. (1997). The role of epidemiology in public health. Revue Scientifique Et Technique De LOIE, 16(2), 331–336. doi: 10.20506/rst.16.2.1020

Dever, G. E. A., & Champagne François. (1984). Epidemiology in health services management.

Rockville, MD: Aspen Systems Corp.

Grouse, L. (2016). Post hoc ergo propter hoc. Journal of Thoracic Disease, 8(7). doi: 10.21037/jtd.2016.04.49

Johnson, S. (2006). Ghost map: the story of Londons most terrying epidemic, and how it changed science, cities, and the modern world. New York, NY: Riverhead Books.

Jung, N., Wranke, C., Hamburger, K., & Knauff, M. (2014). How emotions affect logical reasoning: evidence from experiments with mood-manipulated participants, spider phobics, and people with exam anxiety. Frontiers in Psychology, 5. doi: 10.3389/fpsyg.2014.00570

Kuhn, T. S., & Hacking, I. (2012). The structure of scientific revolution. Chicago: University Of Chicago Press.

Paneth, N. (2004). Assessing the Contributions of John Snow to Epidemiology. Epidemiology, 15(5), 514–516. doi: 10.1097/01.ede.0000135915.94799.00

Sanjaya, W., & Budimanjaya, A. (2017). Paradigma baru mengajar. Jakarta: Kencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: