Kredit Karbon, Sebuah Mekanisme Pengurangan Tanggung Jawab Pembuangan Emisi

Muthya Farah Nur Aulia, Program Studi Master Teknik Lingkungan ITB

Kredit karbon lahir sebagai jawaban atas permasalahan pemanasan global akibat dari meningkatnya kegiatan industri di seluruh dunia. Karbon digadang-gadang menjadi salah satu komoditas menjanjikan untuk dijadikan investasi yang cukup menguntungkan bagi industri sembari ‘menjaga’ lingkungan. Clean Development Mechanism (CDM), salah satu mekanisme kredit karbon, diinisiasi sebagai bentuk tindak lanjut dari Protokol Kyoto untuk dapat segera mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan menekan kenaikan suhu global. Yakin (2011) menyebutkan bahwa CDM memberikan akses bagi industri yang berkomitmen mengurangi GRK untuk berinvestasi pada proyek-proyek pengurangan emisi di negara berkembang sebagai alternatif dari tingginya biaya pengurangan emisi di negara mereka. Selain CDM, Joint Implementation (JI) juga dilahirkan dari Protokol Kyoto dengan harapan negara-negara Annex I dapat bekerja sama dengan negara lain untuk mengurangi emisi karbon. Adanya jalan keluar baru bagi industri untuk dapat tetap membuang emisinya tanpa harus khawatir akan nilai eksternalitas yang tinggi, menjadikan praktik ekonomi ini sebagai peluang baru untuk meningkatkan profitabilitas. Sehingga, saat ini kredit karbon tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, melainkan jalan pintas untuk keberlanjutan bisnis.

Dalam esai ini, penulis mencoba menggambarkan posisi kredit karbon dalam upaya menjaga lingkungan. Benarkah kredit karbon yang sudah dijalankan selama ini telah berkontribusi penuh terhadap penurunan emisi GRK di dunia? Beberapa artikel dan analisis para ahli pada tahun pertama penerapan kredit karbon menghawatirkan adanya dampak negatif dari penerapan kredit karbon untuk lingkungan, terlepas dari aspek finansial yang sangat menjanjikan. Tindakan kecurangan serta laporan mengenai tidak efektifnya mekanisme ini menuntun beberapa media informasi seperti The Christian Science Monitor, VICE, dan The Conversation untuk mengekpos hasil investigasi mereka akan celah kelemahan kredit karbon. Fenomena pasar yang telah menjadikan karbon sebagai salah satu komoditas investasi seperti yang dijabarkan oleh Dalsgaard (2013) menginspirasi penulis untuk menelaah lebih lanjut mengenai tren industri dalam melakukan transaksi jual beli kredit karbon. Apakah intensi industri tetap berada pada jalur hijau atau malah menjadikan kredit karbon sebagai alat pelarian finansial? Bagaimanapun, analisis dalam membentuk esai ini merujuk pada cara pandang penulis dalam melihat emisi karbon sebagai suatu ancaman lingkungan bukan sebagai komoditas pasar.

Karbon offset dan implikasinya pada pengurangan emisi karbon

Bekedok pengembangan teknologi ramah lingkungan, kredit karbon dikembangkan agar dapat menguntungkan bagi pihak-pihak yang melaksanakannya. Industri yang memerlukan offset karbon, karena emisinya yang telah melebihi kapasitas izin pembuangan emisi, akan memberikan sejumlah bantuan dana kepada proyek ramah lingkungan yang memerlukan bantuan modal dan hasil proyek akan dikonversi equivalen dengan penyerapan karbon. Berdasarkan laporan dari UNFCCC, CDM telah mereduksi hampir 2 milyar ton karbon ekuivalen melalui proyek yang dilaksanakan pada negara berkembang dari mulai diinisiasi hingga tahun 2018. Besar investasi pada proyek iklim dan pembangunan berkelanjutan mencapai 303.8 milyar US$. Melihat pencapaian ini, seharusnya kita dapat yakin bahwa penumpukan gas rumah kaca di atmosfer juga akan ikut berkurang. Tetapi jika melihat tren perkembangan emisi karbon dioksida hingga tahun 2018, masih terdapat kenaikan emisi, bahkan dilaporkan oleh Carbon Brief (2019), pada tahun 2018 terjadi peningkatan laju emisi sebesar 2,7%, yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil dan industri, dan diakui sebagai kenaikan tercepat selama 7 tahun terakhir. Hal ini tentunya menimbulkan spekulasi terhadap efektivitas kredit karbon dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Berbeda dengan pajak karbon yang tegas memberikan harga terhadap tiap kelebihan emisi yang dikeluarkan oleh industri, kredit karbon seakan-akan memberikan alternatif bagi industri untuk tetap meningkatkan produktifitasnya tanpa perlu memikirkan kewajiban untuk mengurangi emisi. Industri akan dengan mudah mengeluarkan sebagian pendapatannya untuk dapat menghilangkan sejumlah emisi karbon dari laporannya, meskpun dalam kenyataannya karbon sudah teremisikan ke lingkungan dan menumpuk di atmosfer. Dalam jurnalnya, Gupta (2011) berpendapat bahwa karbon offset merupakan salah satu solusi finansial untuk dapat mengurangi emisi GRK, tetapi membeli karbon offset tidak menghilangkan tanggung jawab kita terhadap pengurangan emisi GRK. Dalam pelaksanaannya, CDM mendapat beberapa kritik terkait dengan validasi kredit dan validasi efektivitas proyek. Hal lain yang kemudian di kritik adalah kurangnya transparansi, struktur tata kelola yang tidak memadai, prosedur rumit, integritas lingkungan yang buruk, sedikit kontribusi untuk pembangunan berkelanjutan, distribusi geografis yang tidak merata dari proyek CDM, serta kemampuan terbatasnya untuk mengurangi emisi GRK di beberapa sektor (Chonde, 2016).

Seperti yang telah disebutkan pada pembuka esai ini, beberapa artikel mucul di media elektronik megkritik kegiatan kredit karbon yang tidak ayal menimbulkan dampak tak hanya bagi lingkungan namun juga sosial. ProPublica melaporkan temuannya mengenai karbon offset dengan investasi pengurangan emisi karbon pada kegiatan penghijauan hutan di Brazil. Hasil analisis satelit menunjukkan bahwa setelah 4 tahun berjalannya proyek, hanya setengah dari area proyek yang dihijaukan dan dapat mereka simpulkan bahwa pencemar mendapat izin bebas rasa bersalah untuk terus memancarkan CO₂, tetapi pelestarian hutan yang seharusnya menyeimbangkan kas tidak pernah berhasil atau tidak bertahan. Pada tahun 2014, artikel yang ditulis oleh Ahmed pada media VICE melaporkan telah teradi pengusiran secara paksa terhadap komunitas asli Hutan Embobut di Kenya oleh Kenya Forest Service (FKS) karena dianggap dapat meningkatkan degradasi hutan. Penggusuran ini merupakan tindak lanjut dari adanya pendanaan program konservasi dari World Bank di Kenya kepada FKS. Ahmed juga menyayangkan jika kegiatan yang seharusnya dapat mengurangi emisi global malah menghancurkan komunitas lokal.

Berbeda dengan yang dilaporkan oleh dua media sebelumnya, laporan lain merujuk pada praktik karbon offset yang dilaksanakan oleh industi penerbangan. The Conversation mengkritik adanya ketidakpastian dalam upaya pengurangan emisi yang diterapkan oleh industri penerbangan. Menurut mereka, perusahaan tidak transparan dalam hal pelaporan investasi yang dilakukan untuk menghilangkan emisi karbon, banyak dari offset ini memiliki nilai yang meragukan dalam hal pengurangan gas rumah kaca asli. Di akhir artikel, media ini juga berpendapat bahwa

karbon offset adalah mekanisme greenwashing yang memungkinkan individu membeli sendiri kredensial hijau tanpa benar-benar mengubah kebiasaan konsumsi mereka, dan negara-negara untuk menghindari perubahan struktural dan peraturan yang lebih sulit yang diperlukan untuk mencegah pemanasan global lebih lanjut.”

Dalam tulisannya, MacKenzie (2009) dalam Dalsgaard (2013) memberikan salah satu contoh kegiatan pengurangan karbon yang dilaksanakan dengan tidak baik. Pabrik-pabrik Cina memperoleh uang dari pemberian kredit karbon sebagai imbalan atas penghancuran gas rumah kaca HFC-23, dimana senyawa tersebut merupakan produk sampingan dari produksi gas rumah

kaca lain (HCFC-22) yang digunakan sebagai pendingin. Industri ini dapat menghasilkan HCFC- 22 yang lebih murah daripada nilai kredit karbon di pasaran, dan dengan demikian mereka membiayai produksi satu gas rumah kaca dengan penghancurannya sendiri.

Dari beberapa kejadian tersebut, timbul pertanyaan baru akan kecenderungan industri untuk membeli kredit karbon dibandingkan dengan mengembangkan teknologi ramah lingkungan bagi industrinya sendiri. Upaya mengurangi karbon bahkah dapat dilakukan oleh indusri dengan menerapkan produksi bersih. Sayangnya, mungkin bagi kebanyakan indusri, kredit karbon merupakan tindakan paling praktis yang dapat dilakukan untuk mendapatkan gelar ‘ramah lingkunan’. Banyaknya celah yang dapat digunakan industri untuk mengeluarkan biaya lebih sedikit pada kredit karbon menjadikan sarana ini kehilangan esensi awalnya sebagai upaya pengurangan emisi karbon dioksida. Skema yang cukup mudah bagi emitten dan biaya yang tidak sebanyak pengembangan instalasi industri menjadi daya tarik tersendiri untuk industri membeli kredit karbon. Pada akhirnya, industri tidak lagi menjadikan isu lingkungan sebagai prioritas utama pengurangan emisi, melainkan profit perusahaan yang akan lebih terjamin, dan investasi yang cukup menguntungakan.

Peran kredit karbon dimasa depan

Berakhirnya periode CDM di tahun 2020 sebagai bentuk implementasi Perjanjian Paris bukanlah tanda masa berakhirnya kredit karbon. Pengembangan mekanisme baru tengah dipersiapkan untuk dapat menggantikan konsep CDM yang masih memiliki banyak celah. Dikutip dari Chames et. al. (2016), mekanisme kredit di masa depan memiliki beberapa implikasi. Pertama, mekanisme kredit dapat bermanfaat jika penerapannya didasarkan dengan peraturan yang kuat. Beberapa standar mungkin butuh dikembangkan untuk menentukan jenis kegiatan yang akan didanai dari hasi investasi kredit karbon. Kedua, mekanisme kredit memiliki dilema yang tidak dapat diselesaikan yaitu antara menciptakan insentif buruk bagi pembuat kebijakan di negara tuan rumah yang tidak menerapan kebiajakn mengurangi emisi GRK (karena akan mengurangi potensi kredit internasional) atau tetap melaksanakan kegiatan yang tidak termasuk dalam kategori pendanaan kredit karbon tetapi tetap dilaksanakan karena adanya kebijakan atau peraturan.Terakhir, ketidakpastian akan berapa besar emisi yang direduksi dari proyek akan tetap terjadi. Ketidakpastian ini juga berlaku pada lamanya suatu proyek mengurangi emisi.

Dari hal-hal diatas, dapat dipastikan bahwa kelemahan bahkan celah kredit karbon akan tetap ada dalam penerapannya di masa mendatang. Sebagai alternatif lain, penerapan pajak karbon serta pembatasan emisi dirasa akan lebih menguntungkan bagi lingkungan. Tetapi, jika kita kembali berbicara mengenai bisnis, setiap industri akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga hanya kesadaran dan partisipas secara sukarela yang akhirnya dapat menjadi sala satu point penting agar kegiatan bisnis dan lingkungan dapat berjalan dengan selaras.

Referensi

Cames, M., Harthan, R. O., Fussler, J., Lazarus, M., Lee, C. M., Ericson, P., & Spalding-Fecher,

R. (2016). How Additional is the Clean Development Mechanism. Berlin: Oko-Institut.

Chonde, S. G. (2016). Use of Carbon Credits/ Trading for Environmental Protection: A Review.

Environmental Science, 19-21.

Dalsgaard, S. (2013). The Commensurability of Carbon: Making Value and Money of Climate Change. Journal of Ethnographic Theory, 80-98.

Gupta, Y. (2011). Carbon Credit: A Step Towards Green Environment. Global Journal of Management and Business Research, 17-19.

Hausfather, Z. (2018, 12 5). Analysis: Fossil-fuel Emissions in 2018 Increasing at Fastest Rate of Seven Years. Retrieved from Carbon Brief: https://www.carbonbrief.org/analysis-fossil- fuel-emissions-in-2018-increasing-at-fastest-rate-for-seven-years

ICAO. (n.d.). What is CORSIA and how does it work? Retrieved from ICAO Environment: https://www.icao.int/environmental-protection/pages/a39_corsia_faq2.aspx

Irfan, U. (2020, February 27). Can You Reallu Negate Your Carbon Emissions? Carbon Offsets, explained. Retrieved from Vox: https://www.vox.com/2020/2/27/20994118/carbon-offset- climate-change-net-zero-neutral-emissions

Nafeez, A. (2014, Desember 1). Carbon Colonialism: How the Fight Against Climate Change is Displacing                                     Africans.                    Retrieved                    from                    VICE: https://www.vice.com/en_us/article/kbzn9w/carbon-colonialism-the-new-scramble-for- africa

Song, L. (2019, May 22). An Even More Inconvenient Truth Why Carbon Credits For Forest Preservation                          May     Be     Worse     than     Nothing.     Retrieved     from     ProPublica: https://features.propublica.org/brazil-carbon-offsets/inconvenient-truth-carbon-credits- dont-work-deforestation-redd-acre-cambodia/

Struck, D. (2010, April 20). Buying Ccarbon Offsets may Ease Eco-Guilt but Not Global Warming. Retrieved                               from              The               Christian               Science               Monitor: https://www.csmonitor.com/Environment/2010/0420/Buying-carbon-offsets-may-ease- eco-guilt-but-not-global-warming

The Conversation. (2014). Carbon Offsets can do More Environmntal Harm than Good. Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/carbon-offsets-can-do-more- environmental-harm-than-good-26593

UNFCCC. (2019). Achievements of the Clan Development Mechanism. Bonn: UNFCCC.

Yakin, A. (2011). Prospek dan Tantangan Implementasi Pasar Karbon Bagi Pengurangan Emisi Deforestasi dan Degradasi Hutan di Kawasan ASEAN. Seminar Nasional “Optimalisasi Integrasi Menuju Komunitas ASEAN 2015”. Diakses dari halaman https://www.researchgate.net/publication/319804233_PROSPEK_DAN_TANTANGAN_IMPLEMENTASI_PASAR_KARBON_BAGI_PENGURANGAN_EMISI_DEFORESTASI_DAN_DEGRADASI_HUTAN_DI_KAWASAN_ASEAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: