Pandemi COVID-19: Sebuah Titik Balik Pengelolaan Limbah Medis di Indonesia

Dameria M.G, Fahmi Nur R, Intan Kusumayanti, Nur Dewisri F, Zulfa Amala

Fenomena Corona Virus Disease2019 (COVID-19) telah mengubah semua aspek kehidupan manusia di seluruh dunia. Pemerintah menetapkan penyebaran virus COVID-19 sebagai bencana nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 12 tahun 2020. Tanggal 2 Maret 2021 lalu tepat satu tahun sejak kasus pertama COVID-19 pertama kali diumumkan Pemerintah Indonesia pada 2 Maret 2020. Hingga 3 Maret 2021 lalu tercatat terdapat 1,3 juta kasus positif COVID-19 di Indonesia (1). Namun, ada hal yang luput dari perhatian kita bersama, yakni timbulan limbah medis yang dihasilkan selama masa penanganan COVID-19.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan adanya limbah medis di berbagai wilayah diantaranya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang di Kota bekasi, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang di Tangerang Selatan, TPA Sumur Batu di Kota Bekasi, serta banyak pula limbah medis yang mengalir menuju Teluk Jakarta. Terlihat dari dampak yang ada,maka pemerintah perlu menyempurnakan regulasi mengenai pengelolaan limbah medis di Indonesia untuk meminimalisir kontak langsung dengan limbah medis yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan, juga mencegah penyalahgunaan atau penggunaan kembali limbah medis oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat dalam periode 19 Maret 2020 sampai dengan 4 Februari 2021, DKI Jakarta menjadi daerah dengan timbulan limbah medis terbanyakdi Indonesia, yaitu 4.630,86 ton. KLHK juga mencatat sejak awal pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020 sampai awal Februari 2021 terdapat 6.417,95 ton timbulan limbah medis COVID-19. Dirjen PSLB3 KLHK menyebut berdasarkan informasi dari Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi), perkiraan penambahan volume timbulan limbah sekitar 30%. (Mapapa, 2020 dalam Prihartanto, 2020). Bukan rahasia lagi bahwa dalam hal pengelolaan limbah B3 di Indonesia masih jauh dari kata layak. Faktanya, dari 132 rumah sakit rujukan pemerintah dalam merawat pasien COVID-19, hanya 20 RS yang memiliki insinerator tersertifikasi. Dari total 2.889 RS yang beroperasi, hanya 110 RS yang memiliki insinerator tersertifikasi (Prasetiawan, 2020). Selain itu, berdasarkan data dari WHO, rumah sakit yang tidak memiliki insinerator sendiri mengontrak penyedia pengelolaan limbah layanan kesehatan swasta yang 92% di antaranya berlokasi di Pulau Jawa. Jarak yang jauh dari sumber timbulan (rumah sakit) ke tempat pemrosesan akhir dapat meningkatkan risiko atau peluang terjadinya pembuangan ilegal, kontaminasi silang, dan penularan penyakit. Hal ini mungkin disebabkan karena peningkatan human error petugas selama waktu pengangkutan yang panjang tersebut. Bayangkan, jika limbah medis COVID-19 ini terbuang begitu saja tanpa penanganan yang baik, tentunya akan menimbulkan masalah baru ditengah upaya pemerintah dalam memutus rantai penularan COVID-19. Belum lagi ditambah dengan adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menjual masker bekas pakai (masker daur ulang) seakan-akan masker baru.

Melihat adanya potensi bahaya dari limbah medis penanganan COVID-19,KLHK mengeluarkan pedoman penanganan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan paparan dan menghindari penumpukan limbah infeksius dan sampah rumah tangga. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa regulasi untuk menangani timbulan limbah tersebut. Salah satunya Presiden Joko Widodo menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah hal ini diperkuat dengan adanya Surat Edaran No. SE.2/MENLHK/PSLB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan COVID-19 tertanggal 24 Maret 2020. Pemerintah perlu mengambil langkah cepat, tepat, dan serius dalam menerapkan regulasi yang berlaku. Hal ini dikarenakan jumlah masyarakat yang terjangkit COVID-19 terus meningkat setiap harinya di Indonesia. Bahkan berdasarkan model prediksi yang dikembangkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat –Universitas Indonesia (FKM –UI), perkiraan jumlah total kumulatif yang terjangkit COVID-19 dapat mencapai 1.250.000 kasus dengan intervensi pemerintah yang tidak tinggi atau termasuk moderat (cakupan tes massal yang rendah dan mengharuskan jaga jarak sosial dengan penutupan sekolah atau bisnis). Model prediksi tersebut juga memperkirakan timbulan medis B3 kumulatif mencapai 3.125 ton.Angka ini tentunya bukanlah perkiraan yang presisi, namun tentunya dapat memperlihatkan jumlah timbulan sampah yang fantastis, apalagi dengan melihat kualitas pengelolaan limbah medis di Indonesia yang jauh dari kata layak, bahkan sejak sebelum pandemi ini terjadi.Fokus pengelolaan sampah pada kondisi pandemi COVID-19 ini bukan saja limbah medis yang berasal dari rumah sakit, namun juga masker dan alat pelindung diri lainnyadi tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, pihak pemerintah juga perlu membuat regulasi rinci terkait penanganan limbah medis skala perumahan. Pemerintah juga dapat merangkul fasilitator untuk diberikan peran membantu mengedukasi, memberdayakan, dan mengajak masyarakat untuk ikut andil dalam penanganan limbah medis skala perumahan.

Untuk memunculkan sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam memutus rantai penyebaran COVID-19, diperlukan juga dukungan dari masyarakat untuk mau berkontribusi dalam memilah sampah rumah tangga yang dihasilkan. Limbah medis yang berhasil dipilah tidak lupa untuk dihancurkan terlebih dahulu, hal itu penting menggingat akan memutus rantai penyalahgunaan penggunaan kembali masker medis oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan mempercepat upaya pemerintah untuk melaksanakan penanganan limbah medis.Oleh karena itu, pengelolaan limbah medis di masa pandemi COVID-19 dapat dikatakan menjadi sebuah titik balik dalam pengelolaan limbah medis di Indonesia. Titik balik ini merupakan sebuah tamparan keras bagi pemerintah untuk dapat memiliki regulasi yang jelas dan praktik yang tegas dalam pengelolaan limbah medis di Indonesia padamasa mendatang. Masyarakat juga tentunya menjadi salah satu aktordalam perbaikan pengelolaan limbah medis di Indonesia untuk menjadilebih baik, dengan menerapkan perilakupemilahan sampah rumah tangga di sumber.Sangat disayangkan jika usaha pemerintah tidak diimbangi dengan inisiatif masyarakat untuk ikutberkontribusi di dalamnya.

Referensi

BBC (Oktober 2020): Virus corona: Limbah infeksius Covid-19 masih ditemukan di TPA, “ada kelonggaran, pengabaian, dan tidak ada pengawasan”, BBC News, diperoleh melalui situs internet: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-54640725.Indra Ramadhan, D. (6 Maret 2020): Waspada! Masker Daur Ulang Buatan Bandung Diedarkan di Jakarta, detiknews, diperoleh melalui situs internet: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4928290/waspada-masker-daur-ulang-buatan-bandung-diedarkan-di-jakarta/2.Prasetiawan, T. (2020): PROBLEMS OVER MEDICAL WASTE, 6.Prihartanto. (2020). Perkiraan Timbulan Limbah Medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Rumah Sakit Penanganan Pasien COVID-19: Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 15 No 1. Juni 2020Rahmi (21 Juli 2020): Safe waste management during COVID-19 response, WHO, diperoleh melalui situs internet: https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-07-2020-safe-waste-management-during-covid-19-response.Triferna V, P. (5 Februari 2021): KLHK: Ada 6.417,95 ton timbulan limbah COVID-19 sampai awal Februari, Antaranews, diperoleh melalui situs internet: https://www.antaranews.com/berita/1983525/klhk-ada-641795-ton-timbulan-limbah-covid-19-sampai-awal-februari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: